Info Menarik

Jembatan Khusus MRT Panjang Khusus Trail 170 Meter Dibangun Dengan Metode

Written by Satrio Elang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pembangunan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di beberapa lokasi ditinjau oleh direksi MRT dengan awak media pada hari Senin (14/9/2017).

Salah satu lokasi proyek terletak di daerah Fatmawati, yang akan digunakan sebagai stasiun MRT.

Proyek di Fatmawati merupakan jembatan layang yang biasa disebut Jembatan Khusus yang berada di atas Jalan Lingkar Luar Jakarta (JORR) TB Simatupang

Perwakilan dari konsorsium kontraktor kerja Stasiun Fatmawati Tokyu-Wijaya Karya, Sony, mengatakan, garis tersebut memiliki panjang sekitar 170 meter dan tinggi 25 meter.

Kursi berkelok-kelok yang panjang, melintasi jalan tol Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) TB Simatupang dari Jalan Fatmawati ke Cipete.

Jalur ini dibangun oleh & # 39; special & # 39; Metode yaitu dengan alat khusus bernama form traveler . Alat ini menolong cara casting langsung dari atas agar tak mengganggu arus lalu lintas di jalan tol JORR

"Kami memasang Special Bridge dengan mentransmisikannya di atas, jadi letakkan wahana, kotak betonnya tergantung di atas kepala dan bergerak maju," kata Sony.

Menurut Sony, pembangunan jalur Jembatan Khusus di atas JORR memakan waktu sekitar empat bulan.

Ini karena satu segmen atau per 4 meter casting membutuhkan waktu sembilan hari.

Alasan memilih cara khusus ini merupakan karena lokasi proyek berada di jalan raya.

"Jika menggunakan cara konvensional dengan memasang beton pra-cetak (precast), akan mengganggu jalan tol di bawahnya karena kita patut membangun kolom (pilar) di tengah jalan raya," kata Sony.

Dengan beberapa pertimbangan di atas, Sony menggunakan cara khusus untuk menjaga agar proyek tetap berjalan tanpa mengganggu jalan raya.

Hal ini juga menyampaikan sekamuinya selama bekerja tak ada kendala seperti turunnya material dan kendala cuaca.

Kemajuan garis ini sendiri mendekati tahap akhir dimana parafet sekarang dipasang di dinding di sepanjang jalan.

Source link

About the author

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.