Info Menarik

Jepang Mengembangkan Total Fuji Mount Fuji Detector Tools Secara Real Time – Tribunnews.com

Written by Satrio Elang

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sejak Gunung Fuji Jepang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, pengunjung ke gunung sekarang jauh lebih banyak.

Maka tak heran suasana perjalanan ke Gunung Fuji menjadi tak nyaman karena berdesak-desakan karena banyaknya pengunjung.

"Bersama dengan perusahaan telekomunikasi KDDI kami bekerja sama untuk mencoba mendeteksi jumlah pendaki Gunung Fuji sehingga tiap orang bisa mengetahui kepadatan pendaki gunung Fuji sehingga mereka bisa memutuskan apakah akan pergi untuk keselamatan mereka atau tak. , Kenyamanan dan kesehatan, "kata Noboru Katsumata, Direktur Divisi Perdagangan dan Olahraga Pemerintah Daerah Gotemba, Kamis (20/10/2017) hingga Tribunnews.com .

KDDI telah mengembangkan sebuah sistem untuk memahami jumlah pendaki dan alat yang dipasang di jalur hiking lima titik dari pintu masuk untuk mendaki jalur Fuji Gunung.

Baca: Serra Wira Sinaga Bertobat Lagi, Nyeri Psikiatrisnya Diduga Kambuh

Instrumen itu diikatkan pada tiang kayu di lima titik.

Dalam demonstrasi tersebut, sensor infra merah dipasang di lima lokasi, untuk memahami jumlah orang yang telah melewatinya secara real time.

Tujuannya ialah untuk menghubungkan data yang diperoleh di jalur gunung mitigasi kongesti dan kemudian dipublikasikan di situs internet dan diperbaharui tiap 30 menit.

Jadi siapapun bisa memutuskan untuk berangkat ke Gunung Fuji atau tak.

Jika terasa padat mungkin berkecil hati untuk pergi ke Gunung Fuji karena tak akan nyaman dengan kepadatan pengunjung.

KDDI dan Gotemba mengerjakan eksperimen hingga 10 September 2017.

Data ini juga mempertimbangkan upaya untuk menemukan rute gunung lainnya dari Gunung Fuji untuk menbisakan data yang valid.

"Dengan bantuan data ini kami berharap bisa lebih memajukan pengembangan pariwisata seperti promosi pendasemakin gunung ini dengan lebih nyaman bagi masyarakat," katanya.

Source link

About the author

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.