Info Menarik

Komandan KPK Rumah Aman Sambangi Di Depok – Tribunnews.com

Written by Satrio Elang

– Panitia Khusus Hak Kuesioner Parlementer seputar Kewenangan dan Kewenangan KPK pada hari Jumat (1/9/2017), mengunjungi rumah aman milik KPK di Depok dan Kelapa Gading. Pemeriksaan mendadak (sidak) tersebut yaitu untuk mengungkap pernyataan saksi kasus suap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, Niko Panji Tirtayasa, terkait rumah aman .

Rumah Aman di Depok yaitu tempat pertama yang dikunjungi kelompok tersebut.

Jarak dari Jakarta 1,5 jam. Rumah yang aman terlihat seperti rumah pada umumnya. Yusman, warga Lenteng Agung, mengontrakkan propertinya.

Berdasarkan pemantauan, rumah tersebut berukuran 60 meter persegi. Lokasinya berada di sisi jalan yang mudah terlihat oleh orang yang lewat. Bagian depan rumah didominasi oleh cat oranye dengan paduan ungu.

Pagar depan rumahnya yang tinggi mencapai atap sehingga tampilan teras rumah tak terlihat dari luar. Pagar dilengkapi dengan pelat serat berwarna gelap. Tapi ada lubang di piring serat sehingga tampilan teras bisa dipantau.

Bagian teras rumah agak kotor, terlihat banyak jaring laba-laba di langit-langit rumah. Pintu rumah tertutup rapat, menunjukkan apakah rumah itu telah lama didiami. Rumah baru dibuka oleh Nanang, sebagai penjaga rumah, dikala rombongan datang ke tempat tersebut.

Di dalam rumah ada tiga kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Ada ventilasi ruangan untuk pertukaran udara. Sementara di bagian belakang rumah, ada tempat kosong. Dari bagian belakang rumah, lihat sisi rumah yang dilengkapi dengan teralis tapi bagian dalam rumah bisa dilihat dari luar. Tapi bagian yang terlihat hanyalah dapur dan kamar mandi dengan pintu tertutup.

Niko mengaku pernah tinggal di tempat tersebut pada Mei 2013 hingga Februari 2015. Sementara di tempat itu, dia tak bisa bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Bahkan, untuk keluar dari tempat itu untuk bertemu keluarga, dia dikawal dari KPK.

Ia merasa tak aman dan nyaman berada di sana. Salah satunya karena jalan dimana dilewati truk sampah sehingga sering berbau harum. Ini ditambah ventilasi untuk sirkulasi udara masuk dan keluar ruangan agak kurang. Padahal, di serambi rumah ada tempat yang sangat sulit untuk dilalui.

"Saya dilarang menjalankan percakapan, tak bebas menghadapi orang luar dan tak bisa berkomunikasi dengan keluarga, tak pergi keluar (bertemu dengan keluarga, -red) membawa pengawal bersama," kata Niko.

Meski ada kamar, dia mengaku tak bisa tidur di kamar. Ini karena jikalau hujan, kamar bocor. "Ruangan itulah yang saya tunjukkan, jikalau hujan tak bisa tidur, jadi di tengah ruangan," keluhnya.

Pemilik rumah Yusman, memastikan ada rumah kontrak pada 2014 hingga 2015. Harga rumah sewaan satu bulan mencapai Rp 2,5 juta atau 25 juta per tahun. Namun, ia mengaku tak ingat siapa yang tinggal di rumahnya.

"Saya tak ingat siapa yang dipekerjakan di tempat saya, jikalau ada bukti, saya bisa mengingat bahwa orang yang bersangkutan telah mengontrak di tempat yang dimaksud. Pada tahun 2014-2015, kontrak itu telah dikontrak, namun saya tak ingat Siapa yang disewa dikala itu, "kata Yusman.

Setelah dikontrakkan tahun itu, rumah itu kosong. Menurut Nanang, penjaga rumah, dia tak pernah melihat ada yang masuk rumah kecuali pemilik rumah yang datang tiap hari sabtu.

Panitia Khusus Kuesioner KPK gagal mengecek rumah kedua bernama rumah sekap Niko di Jl. Kuda Lumping, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pansus tak bisa menghubungi pemilik rumah yang mengunci pagar. (*)

Source link

About the author

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.