Info Menarik

Miras Resmi Terbatas, Miras Oplosan Merajalela – Tribunnews.com

Written by Satrio Elang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manumur (LAKPESDAM) dari Dewan Daerah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, menjalankan survei pada bulan Februari – Maret.

Survei menunjukkan Permendag no 06 / M-DAG / PER / 1/2015, kurang efektif dalam menangani masalah sirkulasi alkohol (minuman keras).

Kepala Bagian Penelitian LAKPESDAM PWNU DKI Jakarta, Abdul Wahid dalam siaran pers yang diterima oleh Tribunnews.com, menyebutkan hasil survei yang dilakukan oleh PWNU, menunjukkan pengetatan peraturan terhadap kelompok alkohol A, berdampak pada peningkatan konsumsi alkohol.

Dibaca: Buwas: Sirkulasi Narkoba di Indonesia, Bangau yang Berat

"Minuman beralkohol kelas A semakin sulit diakses, namun berdampak pada peredaran minuman minum yang meningkat, yang sebenarnya dikonsumsi oleh anak di bawah umur," kata Abdul Wahid, Selasa (15/8/2015)

Abdul Wahid menyebutkan bahwa karena sulitnya minuman beralkohol diakses, sebagian besar remaja yang mengkonsumsi alkohol akhirnya beralih ke alkohol, yang relatif mudah diakses.

Survei PWNI yang dilakukan pada 327 remaja, berumur antara 12-21 tahun, menunjukkan bahwa responden yang mengaku mengkonsumsi alkohol oplosan, 71,5 persen mengaku mengakses oplosan dari toko herbal.

"Sisanya di toko bahan makanan merupakan 14,3 persen, dan melalui perantara 7,1 persen," katanya.

Baca: Karpet Merah ke Bubur Lebo Akan Menyambut Presiden Jokowi, Disini Persiapan Sidang Pleno MPR

"Ramuan Warung merupakan pilihan utama responden, karena warung herbal mudah dijangkau, jarang ada razia, dan hampir di tiap sudut jalan dan gang," katanya.

Adul Wahid mengatakan, dari pencarian pihaknya, diketahui pemahaman remaja mabuk alkohol terhadap oplosan, masih tergolong minimal. Jadi mereka tak berpikir dua kali untuk minum alkohol.

Ketua Umum LAKPESDAM PWNU DKI Jakarta, Mohammad Shodri, mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut, dibutuhkan pola penanganan yang lebih bagus. Pemerintah yang juga mengakomodasi produksi, distribusi dan pengawasan penjualan minuman beralkohol, bukan larangan total.

"Karena itu, bila benar-benar dilarang, ini mempengaruhi konsumsi minuman oplosan, dan ini lebih berbahaya," katanya.

Sayangnya, dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, belum ada informasi mengenai jumlah konsumen alkohol oplosan sebelum Peraturan Menteri Perdagangan seputar minuman beralkohol dikeluarkan.

Source link

About the author

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.