Travelista

Pulau Berhala Kepri Punya Banyak Potensi Wisata Belum Tergarap

Written by Satrio Elang
LINGGA - Pulau Berhala masuk teritorial Kepulauan Riau berbatasan dengan Tanjung Jabung Timur, Jambi. Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri bersama Pecinta Alam Kepri (Pari) mengadakan Familirazation Trip (Famtrip) di sana pada 25-26 Maret 2016 lalu.

Tujuannya untuk menggali potensi wisatanya agar Pulau Berhala lebih dikenal oleh masyarakat di Batam, Bintan, Kepri, Indonesia hingga dunia.

Mata Leticia berbinar. Gadis 18 tahun itu langsung melepas sepatu sportnya, lalu melompat dari perahu kayu bermesin yang biasa disebut pompong. Untuk menuju daratan, rombongan Famtrip memang harus menceburkan kaki ke air hingga betis.

Pompong tak bisa merapat sampai daratan, air laut hampir surut dan perahu pun kandas. "Akhirnya kita sampai di daratan," katanya senang.

Warga Brasil itu merupakan seorang peserta Famtrip. Selain dia, ada Collin, warga Amerika serta Beatrice dan putrinya Ayu, keduanya adalah warga Thailand.
Dalam rombongan tersebut juga ada Kasi Promosi Dispar Kepri Yuli Seperi beserta dua staf Dispar Kepri. Ada juga Pecinta Alam Kepri (Pari) yang dimotori Nunung Sulistiyanto, anggota Babinsa Hairi, dan TNI AD yang ditugaskan di sana, Zulkifli. Selebihnya adalah bloger dan media.

Perjalanan menuju Pulau Berhala memang memakan waktu tak sebentar. Mesin kapal kayu yang digunakan rombongan hanya bisa berjalan pelan. Sekitar empat jam perjalanan, dimulai dari Pelabuhan Dabo, lalu melewati beberapa pulau seperti Pulau Tenang, Pulau Tengah, Pulau Keling, Pulau Lalang, dan Pulau Singkep.

Cuaca siang itu, Jumat (25/3), mendung. Awan hitam menggantung di langit Pulau Berhala. Beberapa orang menghela napas lega, perahu yang mereka tumpangi sampai di tujuan sebelum turun hujan. "Kalau hujan turun saat kita masih berada di laut, itu berbahaya," kata Nunung.

Rombongan Famtrip beruntung, bulan ini sudah memasuki musim timur. Musim teduh. Meskipun mendung menggantung, namun angin tak bertiup kencang. Menurut penuturan seorang warga, Bahrum, jika sedang musim selatan dan utara, dapat dipastikan kapal yang berlayar akan dihempas angin kencang.
"Terus kalau sedang dua musim itu, kami pun tak berani berlayar cari ikan," kata mantan ketua RT di Pulau Berhala ini.

Berdasarkan tabel monografi yang ada di kantor desa, Pulau Berhala terbentuk berdasarkan peraturan daerah tahun 2006, terletak di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga. Berjarak sekitar 38 kilometer dari pusat pemerintah kabupaten dan 18 kilometer dari pemerintah kecamatan. Berada di ketinggian 50 meter dari  permukaan laut dengan suhu maksimal di pulau ini rata-rata 26 derajat celsius.

Menjejak di Pulau Berhala, hal pertama kali yang akan ditemui adalah rumah-rumah tradisional dari kayu. Ada beberapa yang masih menggunakan atap daun rumbia. Ada juga yang atapnya dari seng. Tanahnya berpasir putih, khas tepi laut.

dibaca 5.599x

About the author

Satrio Elang

Pemuda biasa yang masih duduk di bangku kuliah dan ingin berbagi kepada sesama.